Jumat, 09 Maret 2018

Alasan Mengapa Berita Hoax Sangat Cepat Menyebar

Alasan Mengapa Berita Hoax Sangat Cepat Menyebar

"Kebohongan dapat menyebar hingga separuh dunia sementara kebenaran hanya di ujung sepatu" adalah salah satu kutipan dari Mark Twain. Artinya kira-kira adalah kebohongan ( berita palsu) menyebar lebih cepat daripada kebenaran.

Rasanya pendapat Mark Twain tersebut menemukan pembuktiannya sendiri. Saat ini, hoaks atau berita palsu lebih banyak disebarkan dibanding berita asli.

Modusnya pun kini beragam seperti broadcast message di aplikasi pesan singkat hingga media sosial. Salah satu bukti nyatanya yang terjadi di Indonesia adalah adanya kasus Saracen dan Muslim Cyber Army (MCA).

Selain itu, para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga menemukan bahwa ceira palsu menyebar jauh lebih cepat di twitter daripada berita asli. Bahkan, hoaks ini menjangkau khalayak lebih luas.

Lebih Cepat Menyebar

Hal ini ditemukan setelah para peneliti menganalisis berita dari 2006 hingga 2017. Mereka menemukan berita palsu 70 persen lebih mungkin di-retweet dibanding artikel yang terpercaya.

Temuan ini juga mencatat bahwa berita asli sekitar 6 kali lebih lama untuk menjangkau 1.500 orang karena adanya berita palsu.

Deb Roy, yang menjabat sebagai kepala peneliti media di Twitter selama 2013 hingga 2017 sekaligus profesor asosiasi untuk seni media dan ilmu pengetahuan di MIT, mengatakan bahwa timnya berada "antara terkejut dan tertegun" oleh temuan tersebut.

"Temuan ini menyoroti aspek fundamental dari ekosistem komunikasi online kita," ungkapnya dikutip dari The Telegraph, Kamis (08/02/2018).

Mulanya, penelitian ini dilakukan setelah Dr Soroush Vosoughi, salah satu dosen MIT melihat banyak informasi palsu di twitter menyusul peristiwa pemboman Marathon Boston pada 2013.

Informasi palsu yang dimaksud ini adalah "klaim yang dikicaukan di twitter". Kalim itu bisa diungkapkan dengan kata-kata, foto, atau link artikel lengkap di internet.

Beberapa kicauan mengklaim ada seorang gadis 8 tahun ikut terbunuh setelah perlombaan tersbeut demi mengenang penembakan Sandy Hook. Padahal, dalam lomba tersebut telah dinyatakan bahwa anak-anak dilarang mengikutinya.

Berita lain menyebutkan bahwa ada seorang wanita yang terbunuh dalam lomba tersebut sesaat sebelum pacarnya berniat melamar.

"Saya menyadari apa yang saya baca di media sosial hanyalah rumor," kata Dr Vosoughi.

"Itu adalah berita palsu," imbuhnya.

Untuk mengetahui apakah berita palsu memang tersebar lebih cepat, tim ini menggunakan arsip Twitter untuk melacak sekitar 126.000 cascades atau pohon jaringa dari berita palsu dan berita asli. Jenis beritanya bermacam-macam, mulai dari politik, legenda urban, bisnis, terorisme, sains, hiburan, hingga bencana alam.

"Kami menemukan bahwa berita palsu tersebar jauh lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih luas daripada kebenaran di semua kategori informasi," kata para peneliti dikutip dari LA Times, Kamis (08/03/2018).

Alasannya...

Uniknya lagi, tim juga menemukan bahwa penyebaran informasi palsu ini bukan dilakukan oleh robot yang diprogram untuk menyebarkan cerita yang tidak akurat. Tapi, hal ini justru didorong oleh "keyakinan manusia terhadap hal baru".

" Berita palsu lebih baru, dan orang cenderung lebih suka untuk berbagi informasi baru," ungkap Profeor Sinan Aral Sloan School Management MIT yang terlibat penelitian ini.

"Di jejaring sosial, orang bisa mendapatkan perhatian dengan menjadi yang pertama berbagi informasi yang sebelumnya tidak diketahui (tapi mungkin berita yang salah). Orang yang berbagi informasi akan dilihat sebagai orang yang punya pengetahuan," imbuhnya.

Untuk mendapatkan temuan tersebut, para peneliti mempelajari secara acak sekitar 25.000 tweet yang dilihat oleh 5.000 orang. Selanjutnya, mereka membandingkan isi tweet tersebut dengan twee lain yang dilihat orang-orang 60 hari sebelumnya.

Selain itu, para peneliti juga memeriksa isi emosional balasan tweet yang dilihat itu.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa berita palsu memicu perasaan terkejut dan jijik yang lebih besar. Di sisi lain, berita asli menghasilkan ungkapan kesedihan, antisipasi, dan kepercayaan.

"Kami melihat profil emosional yang berbeda untuk berita palsu dan berita terpercaya," kata Dr Vosoughi.

Para peneliti juga menemukan bahwa berita bohong yang disebarkan oleh akun asli maupun robot tisak mengubah pola persebarannya yang lebih jauh dan luas dari berita terpercaya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini juga menunjukkan bahwa walaupun orang dengan sengaja atau tidak menyebarkan hoaks, fenomena ini tidak hanya didorong oleh niatan jahat tapi banyak hal melatarbelakanginya.

Meski sekilas seperti sulit untuk melawan berita palsu ini, tapi para peneliti optimis dengan temuannya.

"Memahami bagaimana penyebaran berita palsu adalah langkah pertama untuk mengatasinya," tulis para peneliti dalam laporan tersebut.

"Kami berharap pekerjaan kami mengilhami penelitian yang lebih besar mengenai penyebab dan konsekuensi penyebaran berita palsu serta potensi pemulihannya," tambahnya.

0 komentar:

Posting Komentar