Jumat, 09 Maret 2018

Ketahui Pakem dan Larangan Sebelum Pakai Kebaya dan Kain Batik

Ketahui Pakem dan Larangan Sebelum Pakai Kebaya dan Kain Batik

Kebaya dan kain tradisional seringkali menjadi pilihan busana untuk menghadiri beragam acara resmi. Namun ternyata, memakai kebaya dan kain tak bisa dilakukan dengan "sembarangan".

Ada beberapa pakem, bahkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan.

Salah satu inisiator gerakan "Perempuan Berkebaya", Lia Nathalia menuturkan, pada dasarnya kebaya adalah pakaian dengan kancing di bagian depan.

Sehingga, jika ada kebaya dengan kancing atau penutup di bagian belakang, samping atau variasi lainnya sebetulnya tak bisa disebut kebaya.

"Yang disebut kebaya intinya yang menutup di depan, bukaannya di depan."

"Jadi kalau dibuka di belakang bukan kebaya. Fesyen mungkin, tapi kebaya tidak," ujar Lia saat ditemui dalam sebuah acara di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Kamis (8/3/2018) kemarin.

Untuk datang ke acara resmi, menurut dia, ada beberapa pakem. Salah satu pakem umum adalah cara memakai kain tradisional.

Untuk perempuan, kain harus menutup dari kiri ke kanan. Sementara, untuk laki-laki dari kanan ke kiri.

Meskipun, pada beberapa acara resmi di Yogyakarta dan Solo hal itu berlaku sebaliknya.

Pakem lainnya, misalnya saat berkunjung ke keraton Yogyakarta atau Solo, jangan memakai batik bermotif parang. Sebab, semakin besar ukuran parang, maka kain itu diperuntukkan bagi raja.

Larangan lainnya adalah tidak memakai batik berwarna cokelat, misalnya Sido Asih, untuk datang ke acara pernikahan. Sebab motif batik tersebut pada umumnya digunakan oleh pengantin.

Jika mau aman, kata Lia, dengan memakai batik pesisir. Seperti Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan lainnya.

"Untuk ngakalin misalnya kita enggak tahu, pakailah batik pesisir. Aman, tidak bakal salah," ucap dia.

Lebih jauh Lia mengatakan, memakai kebaya dan kain sebetulnya tidak ribet. Tidak ada aturan khusus untuk memasangkan kebaya dan kain sebagai bawahannya.

Ia pun pada acara kemarin memadukan kebaya Jawa Tengah dan kain Lombok. Jadi, orang memang bisa dengan bebas memadupadankan kebaya dan batik sesuai selera.

"Saya modifikasi, enggak masalah. Warna juga. Kecuali mau ke acara resmi," tutur anggota Komunitas Kebaya, Kopi, dan Buku itu.

Sementara untuk ukuran kebaya, Lia melihat ada kesalahan persepsi di masyarakat bahwa mereka yang memakai kebaya haruslah yang memiliki tubuh ramping dan ideal.

Padahal, banyak orang di zaman dahulu memakai kebaya dalam ukuran yang longgar. Bahkan dengan garis bahu yang turun hingga ke lengan atas.

"Banyak faktor yang membuat orang salah persepsi, dan akhirnya membuat orang jengah dalam berkebaya dan berkain," tuturnya.

0 komentar:

Posting Komentar