Jumat, 09 Maret 2018

Penemuan Bra Bagi Wanita itu Pembebasan atau Penindasan

Penemuan Bra Bagi Wanita itu Pembebasan atau Penindasan

8 Maret selalu diperingati sebagai hari perempuan internasional. Berhubungan dengan perempuan, salah satu penemuan yang mengubah dunia perempuan adalah bra.

Selain memang dibutuhkan oleh hampir semua perempuan, penemu bra juga seorang perempuan. Sejarahnya pun tidak terlepas dari perjuangan perempuan.

Sebelum adanya, bra, perempuan menekan dirinya sendiri dengan menggunakan korset. Penggunaan korset ini ditujukan agar mereka membentuk citra tubuh ideal perempuan pada era Victoria.

Citra yang dimaksud adalah payudara besar yang menggairahkan di atas pinggang yang kecil. Sebuah standar kecantikan yang dianut oleh banyak wanita sejak tahun 1.500-an.

Dengan standar kecantikan tersebut, wanita di era Victoria cenderung memaksakan diri menggunakan korset yang menyiksa untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal. Bahkan, korset menjadi salah satu benda wajib yang dikenakan wanita untuk memakai gaun agar terlihat apik.

Sayangnya, dokter mulai menyalahkan korset untuk berbagai penyakit. Mulai dari pingsan akibat sesak napas hingga atrofi otot (penurunan massa otot).

Di lain pihak, para feminis juga menyelahkan korset karena dianggap membatasi wanita, baik secara fisik maupun simbolis.

Perlawanan Citra

Akhirnya, pada 1914 perempuan dunia mampu lepas dari pakaian yang menekan tubuh sepanjang hari tersebut. Ini ditandai dengan dipatenkannya bra modern pertama kali.

Tokoh dibalik itu adalah Caresse Crosby atau yang memiliki nama kecil Mary Phelps Jacob. Dia menyebut temuannya tersebut sebagai "backless brassiere".

Singkat cerita, Jacob menciptakan bra sebagai alat agar dia tidak harus mengenakan korset.

Dalam laporan The Telegraph pada 2009, penciptaan bra oleh Jacob ini terjadi saat dia melihat efek dari pakaiannya. Dia merasa bentuk tubuhnya disabotase "baju besi seperti perban dan tali pengikat merah muda" yang menonjol di atas leher.

Selanjutnya, dia menolak mengenakan korset. Dia justru meminta pelayannya mengambil dua sapu tangan dan pita merah muda.

Dia menyulap kedua saputangan tersebut menjadi bra modern yang kita kenal saat ini.

Setahun setelahnya, dia mematenkan bentuk bra modern rancangannya tersebut. Hal ini dilakukan setelah Jacob mendapat banyak pertanyaan tentang bagaimana ia bisa bergerak dengan bebas oleh teman-teman perempuannya.

Perkembangan Bra

Saat ditemukan oleh Jacob, bra kemudian diproduksi hanya dalam satu ukuran saja. Padahal, seperti yang kita tahu, masing-masing perempuan memiliki ukuran tubuh dan payudara yang berbeda.

Maka, perkembangan bra terus berlanjut. Pada 1928, sistem ukuran bra modern diperkenalkan oleh William dan Ida Rosenthal.

Mereka memperkenalkan sistem A, B, C, dan D cup.

Saaat mode berkembang, tampilan androgini mulai disukai pada tahun 1920-an. Bra bendau mulai populer untuk jenis mode ini.

Bra tersebut membuat pemakainya terlihat berdada rata.

Bra ini juga mirip dengan yang digunakan pada masa Yunani kuno hingga Romawi, yang menggunakan pembalut perban dari wol atau linen untuk mengamankan payudara mereka saat aktivitas, terutama atletik.

Selanjutnya, tahun 1930 sampai 1940-an, industri bra berkembang setelah ditemukannya tali elastis dan bantalan untuk cup bra.

Tepatnya pada 1947, bra berbantalan pertama diciptakan dengan nama "Rising Star". Setahun kemudian push up bra (bra yang membuat bentu payudara lebih menonjol) diciptakan.

Membuat Citra Baru

Adanya push up bra kembali membuat kita teringat pada standar kecantikan wanita masa Victoria, di mana payudara besar menjadi sorotan. Hal ini juga disadari oleh para feminis.

1968, para feminis melakukan aksi membakar bra pada kontes Miss America. Mereka menyebut bra sebagai "alat penindasan perempuan".

Meski begitu, perkembangan bra terus berlangsung. Bahkan, menurut laporan New York Daily News, saat ini permintaan ukuran bra terus meningkat.

Selain itu, permintaan bra dengan garis leher rendah dan payudara yang lebih besar juga terus meningkat.

Otoritas Tubuh Perempuan

Hal ini tidak terepas dari pandangan pria terhadap citra tubuh perempuan yang ideal. Dengan kata lain, bra bisa menjadi simbol "penindasan" terhadap perempuan karena tidak memiliki otoritas tubuhnya sendiri.

Menanggapi hal ini, Harti Muchlas yang merupakan direktur Rifka Annisa, sebuah lembaga perlindungan perempuan yang berbasis di Yogyakarta menyebut bahwa akar persoalannya adalah otoritas tubuh perempuan.

"Dari zaman terdahulu sampai zaman sekarang, perempuan itu kan tidak memiliki otoritas terhadap tubuhnya sendiri," ungkap Harti, Rabu (07/03/2018).

"Jadi, dia (perempuan) selalu berperilaku sesuai dengan ekspektasi masyarakat terhadap dirinya," tegas Hari.

Selain itu, Harti juga mengungkapkan bahwa tidak hanya bra semata yang menunjukkan bahwa perempuan selama ini belum benar-benar memiliki otoritas terhadap tubuhnya sendiri.

"Saya kira tidak hanya bra semata, tapi ada banyak hal lainnya seperti warna kulitnya harus bagaimana, rambutnya harus bagaimana," ujar Harti.

"Banyak hal yang melekat dari tubuh perempuan ituyang dijadikan simbol seksualitas laki-laki. Salah satunya ukuran payudara perempuan," imbuhnya.

Selama ini, perempuan dianggap semakin menarik dan seksi ketika memiliki ukuran payudara yang semakin besar.

"Mungkin sejarahnya, memang itu (bra) untuk melindungi perempuan, tapi substansinya bahwa dari zaman dulu sampai zaman sekarang perempuan tidak bisa memutuskan otoritas atas tubuhnya sendiri," tutup Harti.

0 komentar:

Posting Komentar