Kebanyakan Nonton TV Tingkatkan Risiko Kanker Usus Pada Pria

Kebanyakan Nonton TV Tingkatkan Risiko Kanker Usus Pada Pria

Salah satu hal yang kerap kita lakukan saat bersantai adalah menonton televisi.

Ingatkah Anda seberapa sering menonton televisi dalam satu hari? Apakah bisa lebih dari empat jam sehari? Jika iya, coba kebiasaan tersebut mulai diubah.

Sebuah temuan baru yang dilakukan peneliti Inggris baru-baru ini mengungkap bahwa menonton televisi memiliki risiko yang berbeda untuk kesehatan pria dan wanita.

Mereka menemukan, pria yang menonton televisi lebih dari empat jam sehari dapat meningkatkan risiko kanker usus, meski begitu peneliti tidak menemukan adanya risiko atau hubungan keduanya bagi wanita.

Temuan ini merupakan hasil penelitian gabungan dari Imperial College London, Universitas Oxford, dan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC).

Mereka telah melakukan penelitian selama enam tahun yang melibatkan 2.391 peserta. Hasil yang diterbitkan dalam British Journal of Cancer menyebut satu dari 200 orang berisiko memiliki kanker usus dan risikonya meningkat bagi mereka yang menonton tv lebih dari empat jam setiap hari.

Dr Neil Murphy, peneliti utama dari IARC berkata bahwa hal ini berhubungan dengan kebiasaan yang mengikuti saat kita menonton TV, seperti mengonsumsi camilan, alkohol, juga merokok berlebihan. Ia mengatakan hal tersebutlah yang memicu risiko kanker usus besar.

Selain itu, kebiasaan tersebut juga dapat memicu penambahan berat badan yang artinya penumpukan lemak di tubuh semakin banyak. Kelebihan lemak tubuh dapat memengaruhi kadar kormon dan zat kimia lain yang berkaitan dengan pertumbuhan sel. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko kanker usus.

Beruntungnya tim menemukan cara agar hal ini dapat dihindari, yakni dengan rajin olahraga dan mengonsumsi makanan sehat.

"Ada bukti saat kita melihat iklan makanan di TV akan meningkatkan keinginan untuk makan lebih banyak dan ini memicu kelebihan berat badan," ujar profesor Linda Bauld, ahli pencegahan kanker research Inggris, dilansir Telegraph Jumat (9/3/2018).

"Sangat menarik bahwa risiko kanker usus besar hanya terjadi pada pria dan bukan wanita. Hal ini mungkin karena pria lebih banyak merokok, minum alkohol, dan makan tidak sehat saat menonton TV dibanding wanita," jelasnya.

Para ahli yang terlibat dalam penelitian menyarankan agar kebiasaan ini tetap diimbangi dengan perilaku sehat seperti menjaga berat badan, mengurangi alkohol, perbanyak konsumsi buah dan sayur untuk mengurangi risiko kanker usus.

Uniknya, peneliti mengatakan bahwa risiko peningkatan kanker usus hanya terjadi saat kita banyak menonton televisi. Hal yang sama tidak terjadi saat kita terlalu banyak menatap layar komputer.

Bauld dan timnya berharap ada penelitian lebih lanjut yang dapat menjawab pertanyaan mengapa risiko kanker usus hanya terjadi saat terlalu banyak menonton TV dan tidak terjadi saat terlalu banyak ada di depan komputer.

3 Fakta Kanker dan Mitos yang Mengikutinya

3 Fakta Kanker dan Mitos yang Mengikutinya

Mungkin Anda pernah mendengar terlalu banyak minum kopi bisa menyebabkan kanker dan secangkir teh hijau dapat mengurangi risikonya.

Mitos lain yang mungkin pernah Anda dengar lainnya adalah operasi kanker justru bisa membuat penyakit lebih parah.

Informasi yang salah terus berkembang dan inilah mitos yang dibantah oleh dua ahli dilansir Newsweek, Rabu (7/3/2018).

1. Kafein menyebabkan kanker

Dokter bedah Dr Syed Ahmad, yang mengkhususkan diri pada penyakit pankreas dari University of Cincinnati Cancer Institute, mengatakan kepada Newsweek bahwa pasiennya sering khawatir saat meminum kafein karena bisa menyebabkan kanker.

"Kami pikir itu tidak benar. Sudah banyak penelitian yang telah dilakukan dan tidak ada hasil yang menunjukkan hubungan antara kafein dan kanker," kata Ahmad.

Sebaliknya, beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa kafein dapat mencegah kerusakan DNA dan dapat melindungi tubuh dari penyakit ini.

Ahmad mengingatkan untuk mengonsumsi kafein secukupnya. Terlalu banyak kafein bisa menyebabkan tidur bermasalah dan meningkatkan risiko osteoporosis.

2. Paparan udara membuat tumor menyebar

Ada juga yang mengkhawatirkan bahwa operasi tidak menghilangkan tumor, tapi justru membuatnya makin menyebar. Mitos yang beredar ini karena udara yang masuk saat operasi membuat tumor menyebar.

Dr Julian Guitron, ahli bedah toraks dan paru-paru dari Universitas Cincinnati, juga sudah sering mendengar mitos ini.

Ia berpendapat, pemikiran ini bermula sebelum teknologi CT scan yang mampu memberi gambaran jelas tentang tumor atau kanker tersedia. Dulu, sebelum dokter mengeluarkan kanker ternyata kanker sudah menyebar ke seluruh tubuh.

Saat pasiennya tidak yakin dengan penalaran itu, Guitron menjelaskan, tubuh membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup.

"Sel Anda selalu mendapatkan oksigen, kalau tidak mereka tidak akan hidup," katanya.

3. Kanker paru selalu disebabkan oleh merokok

Faktanya merokok merupakan penyebab utama kanker paru-paru, tapi bukan berarti ini satu-satunya cara terjangkit kanker paru-paru.

Guitron membeberkan, seperlima orang Amerika meninggal karena kanker paru-paru, padahal tidak ada catatan mereka merokok.

"Mitos, kalau ada yang mengatakan saya tidak merokok maka saya tidak akan terjangkit kanker paru-paru," kata Guitron.

Ia mengatakan, terkena debu asbes, arsenik, knalpot kendaraan bermotor, gas alam dari bebatuan, dan debu bangunan berlebih dapat memicu kanker paru-paru.

Menurut sebuah penelitian, mengonsumsi banyak buah dan sayur, berolahraga, dan membatasi alkohol dapat menurunkan risiko terjangkit banyak jenis kanker.

Alasan Mengapa Berita Hoax Sangat Cepat Menyebar

Alasan Mengapa Berita Hoax Sangat Cepat Menyebar

"Kebohongan dapat menyebar hingga separuh dunia sementara kebenaran hanya di ujung sepatu" adalah salah satu kutipan dari Mark Twain. Artinya kira-kira adalah kebohongan ( berita palsu) menyebar lebih cepat daripada kebenaran.

Rasanya pendapat Mark Twain tersebut menemukan pembuktiannya sendiri. Saat ini, hoaks atau berita palsu lebih banyak disebarkan dibanding berita asli.

Modusnya pun kini beragam seperti broadcast message di aplikasi pesan singkat hingga media sosial. Salah satu bukti nyatanya yang terjadi di Indonesia adalah adanya kasus Saracen dan Muslim Cyber Army (MCA).

Selain itu, para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga menemukan bahwa ceira palsu menyebar jauh lebih cepat di twitter daripada berita asli. Bahkan, hoaks ini menjangkau khalayak lebih luas.

Lebih Cepat Menyebar

Hal ini ditemukan setelah para peneliti menganalisis berita dari 2006 hingga 2017. Mereka menemukan berita palsu 70 persen lebih mungkin di-retweet dibanding artikel yang terpercaya.

Temuan ini juga mencatat bahwa berita asli sekitar 6 kali lebih lama untuk menjangkau 1.500 orang karena adanya berita palsu.

Deb Roy, yang menjabat sebagai kepala peneliti media di Twitter selama 2013 hingga 2017 sekaligus profesor asosiasi untuk seni media dan ilmu pengetahuan di MIT, mengatakan bahwa timnya berada "antara terkejut dan tertegun" oleh temuan tersebut.

"Temuan ini menyoroti aspek fundamental dari ekosistem komunikasi online kita," ungkapnya dikutip dari The Telegraph, Kamis (08/02/2018).

Mulanya, penelitian ini dilakukan setelah Dr Soroush Vosoughi, salah satu dosen MIT melihat banyak informasi palsu di twitter menyusul peristiwa pemboman Marathon Boston pada 2013.

Informasi palsu yang dimaksud ini adalah "klaim yang dikicaukan di twitter". Kalim itu bisa diungkapkan dengan kata-kata, foto, atau link artikel lengkap di internet.

Beberapa kicauan mengklaim ada seorang gadis 8 tahun ikut terbunuh setelah perlombaan tersbeut demi mengenang penembakan Sandy Hook. Padahal, dalam lomba tersebut telah dinyatakan bahwa anak-anak dilarang mengikutinya.

Berita lain menyebutkan bahwa ada seorang wanita yang terbunuh dalam lomba tersebut sesaat sebelum pacarnya berniat melamar.

"Saya menyadari apa yang saya baca di media sosial hanyalah rumor," kata Dr Vosoughi.

"Itu adalah berita palsu," imbuhnya.

Untuk mengetahui apakah berita palsu memang tersebar lebih cepat, tim ini menggunakan arsip Twitter untuk melacak sekitar 126.000 cascades atau pohon jaringa dari berita palsu dan berita asli. Jenis beritanya bermacam-macam, mulai dari politik, legenda urban, bisnis, terorisme, sains, hiburan, hingga bencana alam.

"Kami menemukan bahwa berita palsu tersebar jauh lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih luas daripada kebenaran di semua kategori informasi," kata para peneliti dikutip dari LA Times, Kamis (08/03/2018).

Alasannya...

Uniknya lagi, tim juga menemukan bahwa penyebaran informasi palsu ini bukan dilakukan oleh robot yang diprogram untuk menyebarkan cerita yang tidak akurat. Tapi, hal ini justru didorong oleh "keyakinan manusia terhadap hal baru".

" Berita palsu lebih baru, dan orang cenderung lebih suka untuk berbagi informasi baru," ungkap Profeor Sinan Aral Sloan School Management MIT yang terlibat penelitian ini.

"Di jejaring sosial, orang bisa mendapatkan perhatian dengan menjadi yang pertama berbagi informasi yang sebelumnya tidak diketahui (tapi mungkin berita yang salah). Orang yang berbagi informasi akan dilihat sebagai orang yang punya pengetahuan," imbuhnya.

Untuk mendapatkan temuan tersebut, para peneliti mempelajari secara acak sekitar 25.000 tweet yang dilihat oleh 5.000 orang. Selanjutnya, mereka membandingkan isi tweet tersebut dengan twee lain yang dilihat orang-orang 60 hari sebelumnya.

Selain itu, para peneliti juga memeriksa isi emosional balasan tweet yang dilihat itu.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa berita palsu memicu perasaan terkejut dan jijik yang lebih besar. Di sisi lain, berita asli menghasilkan ungkapan kesedihan, antisipasi, dan kepercayaan.

"Kami melihat profil emosional yang berbeda untuk berita palsu dan berita terpercaya," kata Dr Vosoughi.

Para peneliti juga menemukan bahwa berita bohong yang disebarkan oleh akun asli maupun robot tisak mengubah pola persebarannya yang lebih jauh dan luas dari berita terpercaya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini juga menunjukkan bahwa walaupun orang dengan sengaja atau tidak menyebarkan hoaks, fenomena ini tidak hanya didorong oleh niatan jahat tapi banyak hal melatarbelakanginya.

Meski sekilas seperti sulit untuk melawan berita palsu ini, tapi para peneliti optimis dengan temuannya.

"Memahami bagaimana penyebaran berita palsu adalah langkah pertama untuk mengatasinya," tulis para peneliti dalam laporan tersebut.

"Kami berharap pekerjaan kami mengilhami penelitian yang lebih besar mengenai penyebab dan konsekuensi penyebaran berita palsu serta potensi pemulihannya," tambahnya.