Ikan Misterius Seberat 150 Kg Terdampar di Pantai Australia

Ikan Misterius Seberat 150 Kg Terdampar di Pantai Australia

Melihat ikan terdampar di pantai mungkin bukanlah pemandangan yang luar biasa. Tapi ikan yang terdampar di sebuah pantai di Queensland, Australia timur laut ini punya ukuran yang tak biasa.

Ikan tersebut memiliki bobot sekitar 150 kilogram dengan ukuran panjang hampir 2 meter.

Selain ukurannya yang besar, spesimen individu juga punya bentuk yang aneh. Hal ini membingungkan penemu ikan tersebut.

Ikan ini pertama kali ditemukan oleh sepasang suami istri John dan Riley Lindholm yang sedang mencari hunian di sekitar pantai Moore Park Beach. Mereka menemukan sebuah "onggokan besar" di antara pasir pantai yang ternyata ikan raksasa itu.

John yang merupakan nahkoda kapal dan menghabiskan waktunya untuk mencari ikan menyebut, dia tidak pernah melihat ikan yang sangat besar itu.

Dia juga menjelaskan tidak mengetahui ikan tersebut berasal dari spesies apa.

"Saya telah melihat banyak ikan, dan banyak ikan besar, tapi saya belum pernah melihat yang seperti ini," ungkap John dikutip dari ABC News, Kamis (08/03/2018).

"Ini mungkin kerapu, tapi ini tidak mirip dengan apa yang dijelaskan orang-orang kepadaku," imbuhnya.

ebingungan dengan apa yang ditemukannya, pasangan tersebut kemudian mengunggah foto ikan tersebut ke Facebook komunitas pantai untuk mencari orang yang bisa membantu mengidentifikasi makhluk aneh tersebut. Hasilnya, beberapa orang berspekulasi bahwa itu adalah ikan cod, sedangkan banyak orang lain menyebut ikan tersebut sebagai tripletail.

"Saya pernah melihat paus terdampar di pantai, tapi ukuran ini dan jenisnya membuat saya menghela napas," kata John.

Kebingungan John juga bertambah setelah tidak melihat tanda-tanda luka pada ikan ini. Dengan kata lain, sulit mengidentifikasi bagaimana ikan ini mati.

Dia mengira bahwa ikan ini mungkin mati secara alami.

"Hal yang mengejutkan adalah kenyataan bahwa ikan itu ada di sini, karena tidak banyak terumbu karang yang dekat dengan pantai ini," kata JOhn dikutip dari Newsweek, Kamis (08/03/2018).

Mendengar tentang ikan aneh ini, Patroli Perkapalan dan Perikanan Queensland (QBFP) berkonsultasi dengan para ahli di Museum Queensland. QBFP berupaya untuk mengidentifikasi spesies ikan tersebut.

Hasilnya, juru bicara QBFP mengatakan bahwa sangat sulit untuk secara definitif mengidentifikasi ikan tersebut. Hal ini karena kondisinya yang sangat buruk.

Meski begitu, mereka menyebut bahwa mungkin ikan ini berjenis kerapu seperti yang diduga banyak orang.

"Bagaimana ikan itu sampai terdampar di pantai dan penyebab kematiannya juga sulit ditentukan," ungkap juru bicara QBFP.

Di Indonesia

Peristiwa semacam ini juga pernah terjadi di Indoneria. Pada Mei 2017 lalu, seekor ikan raksasa sepanjang 22 meter ditemukan di Dusun Hulung, Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Maluku.

Mulanya, ikan ini dikira cumi raksasa. Tapi, setelah diperiksa, ikan besar itu lebih mirip dengan paus. 

”Awalnya warga mengira itu cumi, tapi setelah diperiksa ternyata bangkai paus karena lebih mirip dengan paus,” ujar Kapolsek Huamual Ipda Idris Mukadar, Rabu (10/5/2017).

Alasan Mengapa Kebanyakan Orang Suka Makanan Pedas

Alasan Mengapa Kebanyakan Orang Suka Makanan Pedas

Makanan pedas seolah tak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Sambal adalah salah satu contoh makanan yang hampir wajib ada di meja makan.

Bahkan, makanan dengan pedas berlevel pun kini menjadi tren. Berbagai rumah makan di Indonesia pun sering menyediakan berbagai jenis sambal untuk memenuhi selera pengunjungnya.

Namun, fenomena penyuka pedas ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Banyak negara punya budaya makan pedas, misalnya saja Thailand, Meksiko, China, India, dan Etiopia.

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan mengapa banyak orang suka memakan makanan pedas?

Pertanyaan ini juga sempat membuat penasaran para antropolog dan sejarawan makanan selama beberapa waktu. Apalagi, negara dengan budaya makan pedas ini sebenarnya memiliki iklim yang cenderung hangat.

Mengurangi Pembusukan

Dirangkum dari BBC, Jumat (16/02/2018), budaya makan pedas ini mungkin berkaitan dengan fakta bahwa beberapa rempah (yang memunculkan rasa panas atau pedas) bersifat anti-mikroba.

Dalam sebuah survei terhadap resep di seluruh dunia, para peneliti mencatat bahwa jumlah penggunaan rempah dalam makanan meningkat seiring peningkatan suhu tahunan rata-rata.

"Di tempat yang panas, di mana makanan yang tidak disimpan dalam lemari pendingin, pembusukan berlangsung sangat cepat. Rempah-rempah mungkin membantu makanan tetap bertahan sedikit lebih lama, atau setidaknya membuatnya lebih enak," tulis laporan BBC tersebut.

Membuat Berkeringat

Seperti yang kita tahu, mengonsumsi makanan pedas sering kali membuat kita berkeringat. Keringat ini mungkin membantu kita untuk mendinginkan diri di daerah yang panas.

Efek pendinginan eveporatif (penguapan) yang terjadi saat kita berkeringat berguna untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Namun dalam iklim yang sangat lembap, tidak masalah seberapa banyak Anda berkeringat, penguapan tidak akan mendinginkan Anda. Itu karena udara sudah terlalu banyak air di udara.

Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan dengan membandingkan minuman yang diminum seusai berolahraga.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa minum air panas setelah berolahraga membantu orang me ndinginkan badan lebih banyak dibanding orang yang minum air dingin. Tapi hal ini dengan catatan hanya terjadi saat kelembapan udara rendah.

Peran Budaya

Pedas tak bisa dipungkiri menimbulkan sensasi rasa baru dalam makanan. Apalagi jika sensasi ini didapat dari berbagai jenis rempah yang beragam.

Sayangnya, keragaman rasa ini di Eropa sekitar tahun 1.600-an dipandang sebagai sesuatu yang tak beradab, seperti yang ditulis oleh Maanvi Singh dalam bukunya The Salt.

Orang Eropa pada saat itu mengubah standar makanan mewah pada yang berfokus dengan esensi paling murni dari bahan dasarnya. Peran budaya inilah yang menentukan bagaimana suatu masyarakat merespon rasa makanan, termasuk pedas.

Seperti kebanyakan hewan, manusia menggunakan rasa sebagai cara untuk menentukan apa yang aman untuk dimakan. Begitu kita terbiasa dengan sebuah rasa tertentu, kita cenderung akan lebih menyukainya.

Inilah yang kemudian menjadi alasan kuat mengapa kita sebagai orang Indonesia makin menyukai rasa pedas dari makanan. Bahkan, ada rasa yang kurang ketika kita tidak mengonsumsi makanan pedas.

Sensasi Tersendiri

Di masa sekarang, kita punya banyak alasan untuk menyantap hidangan pedas. Mulai dari adrenalin yang terpacu atau hanya karena ingin.

Selain itu, reaksi fisiologis terhadap makanan pedas juga terjadi dari hasil aktivasi sensor temperatur dalam mulut. Tubuh akan bereaksi seolah-olah terbakar.

Anda akan berkeringat, memerah, bahkan mungkin muntah akibat makanan pedas. Sensasi ini memicu pengalaman intens yang dianggap bagian dari daya tarik makanan pedas.

Teleskop NASA Abadikan Momemt Tabrakan Dua Galaksi

Teleskop NASA Abadikan Momemt Tabrakan Dua Galaksi

Antariksa adalah tempat yang sangat "berantakan". Bagaimana tidak, antariksa penuh dengan ledakan dan benturan antar-bintang dan benda-benda lainnya.

Meski antariksa adalah tempat yang riuh, tapi biasanya kita tidak akan bisa melihat "kembang api" terbesar di jagad raya, yaitu tabrakan antar- galaksi.

Beruntungnya, beberapa waktu lalu, teleskop luar angkasa Hubble milik badan antariksa milik Amerika Serikat ( NASA) berhasil mengabadikannya. Ya, teleskop Hubble berhasil memotret pemandangan dari dua galaksi yang berdekatan kemudian bertabrakan untuk bergabung menjadi satu galaksi.

Adegan ini terjadi di sebuah rasi yang disebut Cetus atau Monster Laut yang berjarak sekitar 350 juta tahun cahaya. Penamaan rasi ini dikarenakan, dari gambar yang diperoleh dari teleskop Hubble terlihat mirip seperti monster laut.

Namun, meski tembakannya dramatis, tabrakannya baru akan dimulai dan mungkin memakan waktu jutaan tahun sebelum kedua galaksi tersebut benar-benar bergabung.

Kedua galaksi ini begitu dekat satu sama lain. Selain itu, masing-masing berisi begitu banyak bintang masif.

Galaksi bagian atas juga menampilkan fitur yang disebut dengan ekor pasang surut. Karena hal inilah aliran bintang yang berantakan diciptakan oleh gravitasi satu galaksi yang saling tarik-menarik.

Inilah yang menjadi alasan mengapa kedua galaksi tersebut telah berbagi nama Arp 256, meski belum sepenuhnya bersatu. Para astronom juga mengklasifikasikan sistem seperti ini sebagai "galaksi yang aneh" karena beberapa jenis interaksinya memang menyebabkan sifat (galaksi) aneh, seperti debu tambahan atau berbentuk unik.

Dirangkum dari Newsweek, Kamis (08/03/2018), galaksi aneh ini kemudian menarik perhatian para peneliti untuk mempelajarinya. Mereka bisa mengajari kita (manusia) bagaimana galaksi berevolusi selama miliaran tahun.

Arp 256 sendiri pertama kali dikatalogkan oleh Halton Arp, seorang astronom Amerika pada 1966. Galaksi ini menjadi salah satu di antara 338 galaksi yang dinamai di Atlas of Peculiar Galaxies.

Tujuan dari katalog ini adalah menggambarkan struktur aneh dan indah yang ditemukan di antara galaksi terdekat. Galaksi-galaksi aneh itu seperti eksperimen alami yang dimainkan dengan skala kosmis.

Menurut Science Daily, Kamis (08/03/2018), dulu ketika alam semesta kita berkembang jauh lebih kecil interaksi dan penggabungan antar-galaksi lebih sering terjadi. Inilah yang mendorong evolusi galaksi hingga hari ini.

Galaksi dalam sistem Arp 256 ini kini masih melanjutkan "tarian" gravitasi mereka hingga jutaaan tahun yang akan datang. Nantinya, mereka akan berubah menjadi sebuah galaksi tunggal.

Lalu apakah galaksi Bima Sakti tempat tinggal kita juga nantinya akan bertabrakan?

Menurut para astronom, galaksi Bima Sakti pun tidak terlepas dari tabrakan astronomis ini. Mereka meramalkan bahwa Bima Sakti nantinya akan bertabrakan dengan Andromeda.

Namun tak perlu khawatir, hal ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Peristiwa ini akan terjadi sekitar empat miliar tahun lagi. Jadi, masih banyak waktu untuk menyaksikan tabrakan dari dua galaksi lain.